Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aceh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Januari 2015

Cempaka Wangi, Flora Khas Aceh

Cempaka Aceh
Negara Indonesia merupakan salah satu negara yang dikenal dengan keanekaragaman jenis flora atau tumbuh-tumbuhan di setiap daerahnya. Salah satu daerah yang beruntung ditumbuhi oleh keindahan Sang Pencipta itu adalah Provinsi Aceh, yang terkenal dengan floranya yang bernama Cempaka Wangi (Magnolia champaca/Michelia champaca) atau biasa disebut juga Bungong Jeumpa yang juga merupakan bunga identitas Kota Aceh.

Bunga Purba

Asal usul nama “cempaka” sendiri bersumber dari bahasa Sansekerta. Nama-nama dalam berbagai bahasa di India juga memiliki nama bermiripan, seperti champac, sonchaaphaa, atau sampangi. Secara umum, Cempaka Wangi (Bungong Jeumpa) adalah pohon hijau abadi yang besar, biasanya bunganya yang berwarna putih atau kuning dikenal luas sebagai sumber wewangian. Bijinya terbungkus oleh salut biji yang disukai burung.
Bunga Cempaka Wangi merupakan jenis tanaman berbunga dari suku Magnoliaceae. Bunga ini termasuk tanaman yang tumbuh di daerah tropis dan subtropis di Asia Selatan dan Asia Tenggara serta Tiongkok Selatan. Bunga Cempaka Wangi ini masih termasuk tumbuhan purba, yang merupakan fosil yang hidup dan asal-usulnya dapat ditelusuri hingga 95 juta tahun yang silam. Saat ini, Cempaka Wangi hanya tumbuh di tempat-tempat tertentu saja. Salah satu contohnya yaitu di wilayah Pulau Sumatera.

Wewangian

Bunga Cempaka Wangi mengeluarkan aroma yang harum. Biasanya, hiasan Bunga Cempaka Wangi digunakan sebagai riasan untuk menyambut tamu. Sedangkan bunga yang masih kuncup digunakan sebagai hiasan rambut penari, yang mayoritas adalah Inong (dalam bahasa Aceh berarti “perempuan”). Sehingga Inong Aceh tersebut akan terlihat lebih cantik dan anggun, layaknya seorang puteri. Ketika sang penari mulai beraksi, bunga ini akan menebarkan aroma wangi yang semerbak. Bukan hanya untuk menyambut tamu, oleh Inong Aceh bunga ini juga sering digunakan sebagai pelengkap pakaian adat Aceh dalam upacara pernikahan.
Bungong Jeumpa ternyata juga memiliki kegunaan lain, misalnya sebagai pengharum ruangan. Biasanya beberapa kuntum Bunga Cempaka Wangi diletakkan ke dalam sebuah mangkuk yang berisi air. Bahkan, wangi dari bunga ini digunakan sebagai komponen utama salah satu parfum dari negara Perancis.
Namun karena populasinya sekarang yang sangat terbatas, replika Bunga Cempaka Wangi kini banyak untuk keperluan tata rias. Sehingga dalam upacara-upacara Adat Aceh sudah banyak digunakan  Bunga Cempaka Wangi tiruan sebagai pelengkap pakaian adat.

Baik Untuk Kesehatan

Selain terkenal karena kecantikan dan aroma wanginya, Cempaka Wangi ternyata juga dipakai untuk pengobatan tradisional yang juga bermanfaat bagi kesehatan. Misalnya, jenis Cempaka Kuning berkhasiat bagi wanita untuk membantu proses pemulihan setelah persalinan, mengobati kencing tidak lawas, serta mengobati demam selsema.
Untuk wanita setelah melahirkan, caranya adalah dengan mengambil beberapa helai daun Cempaka Kuning yang telah dibersihkan terlebih dahulu. Kemudian daun tersebut direbus hingga mendidih. Air hasil rebusan daun kemudian diminum.
Sedangkan untuk mengatasi demam selsema, ambil akarnya lalu ditumbuk hingga pecah, kemudian direbus dengan air hingga mendidih. Setelah menjadi hangat, air hasil rebusan tersebut kemudian diminum secara perlahan.
Pohon Bungong Jeumpa biasanya banyak ditemui dan ditanam di pekarangan-pekarangan rumah warga, di halaman kuil , dan di area pemakaman umum. Pohon Cempaka Wangi sebenarnya dapat diperbanyak dengan cara mencangkok, atau dengan menumbuhkan bijinya.
Ada satu keunikan lain dari pohon Cempaka Wangi. Yaitu adanya mitos yang menganggap bahwa Cempaka Wangi merupakan pohon atau bunga keramat. Sebenarnya karena keberadaan pohon Cempaka yang sering dihubung-hubungkan dengan tempat-tempat yang suci. Pada kenyataannya, di kehidupan sehari-hari pohon Bungong Jeumpa telah memberikan banyak manfaat.
Written by Ika Wahyuni

Menikmati Keindahan Bawah Laut Pantai Iboih

Eksotis Pantai Iboih
Salah satu pantai populer yang ada di Pulau Sumatera yaitu Pantai Iboih. Pantai Iboih juga sering dikenal dengan Teupin Layeu, terletak di sebelah barat Pulau Weh, ujung barat Pulau Sumatera. Pantai di Sumatera ini menawarkan berbagai macam keindahan yang akan membuat wisatawan yang berkunjung terkesan.
Pantai Iboih sebenarnya merupakan pelabuhan yang digunakan untuk menuju ke Pulau Rubiah. Meskipun sebuah pelabuhan, namun keindahan Pantai Iboih tidak diragukan lagi. Air lautnya yang jernih dan memiliki warna gradasi hijau biru ditambah hamparan pasir putihnya yang bersih dan dikelilingi oleh hutan lindung, Iboih bagaikan “surga” tersembunyi yang memiliki nuansa tenang dan damai.

Objek Wisata

Kegiatan yang dapat dilakukan di Pantai Iboih Sumatera yaitu menyelam dan snorkeling, karena pantai ini memiliki gelombang laut yang tenang. Para wisatawan dapat menikmati keanekaragaman bawah laut dengan berbagai macam spesies ikan dan terumbu karang. Selain itu, Anda juga dapat menikmati keindahan gunung berapi yang berada di bawah permukaan laut. Bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi melihat keindahan bawah laut dan tidak membawa perlengkapan snorkeling, Anda tidak perlu khawatir, karena terdapat persewaan peralatan snorkeling maupun menyelam.
Dengan ketenangan yang dimiliki pantai Sumatera ini, Pantai Iboih sangat cocok untuk menyegarkan pikiran. Ketenangan pantai dan kecantikannya nan eksotis, menjadikan suasana pantai ini terasa tenang dan damai. Jika Anda ingin merasakan ketenangan yang lebih lama dan melihat matahari terbit maupun terbenam, Anda bersama keluarga dapat menyewa cottage yang terletak di pinggir pantai.

Lokasi

Pantai Iboih terletak di Kelurahan Iboih, Kecamatan Sukakarya, Sabang, Aceh, Pulau Sumatera.

Akses

Akses untuk mencapai Pantai Iboih, dapat dimulai dari Pelabuhan Ulee Lheue, Provinsi Aceh. Sesampainya di sana, Anda dapat menggunakan kapal ferry menuju Pelabuhan Balohan, Sabang. Sesampai di Pelabuhan Balohan, Anda bisa menggunakan transportasi umum untuk menuju ke Pantai Iboih.

Fasilitas dan Akomodasi

Beberapa fasilitas dan akomodasi yang ada di Pantai Iboih Sumatera yaitu penginapan/cottage, hotel yang terletak di Gapang, toilet, tempat ibadah, toko souvenir, tempat persewaan snorkeling dan menyelam.

Pesona Taman Laut Rubiah

Taman Laut Rubiah
Provinsi Aceh sebenarnya memiliki tempat wisata yang patut dibanggakan, salah satunya adalah Pulau Rubiah. Pulau Rubiah berada di ujung barat Pulau Sumatera, menawarkan pesona keindahan bawah lautnya. Pulau ini memiliki luas kurang lebih 26 Hektar. Karena pesona kekayaan bawah lautnya tersebutTaman Laut Rubiah atau Sea Garden of Rubiah dijuluki sebagai surganya para penyelam.
Pulau Rubiah adalah bagian dari Kota Sabang, tepatnya berada di sebelah barat laut Pulau Weh. Pulau ini hanya berjarak sekitar 250 meter dari Pantai Iboih Aceh. Pada masa kejayaan Kerajaan Aceh, Pulau Rubiah merupakan tempat transit bagi calon jamaah haji, dan pada masa perang dunia pulau ini merupakan benteng pertahanan yang sampai sekarang masih terlihat puing-puing benteng tersebut. Namun sekarang ini, seiring perkembangan dunia wisata, Pulau Rubiah dijadikan tujuan wisata bagi para penyelam.

Objek Wisata

Pulau Rubiah
Pulau Rubiah dengan taman lautnya menawarkan pesona keindahan alam bawah laut yang dapat memukau bagi siapa saja yang mengunjunginya. Anda akan menemui berbagai macam spesies ikan tropis seperti angel fish, gigantic clams, school of parrot fish, lion fish dan sebagainya. Terdapat juga berbagai jenis terumbu karang. Untuk bisa menikmati keindahan alamnya, Anda tidak harus memiliki lisensi menyelam. Karena di pulau ini, terdapat banyak spot penyelaman yang aman digunakan untuk aktivitas menyelam bagi pemula atau penyelam yang belum memiliki lisensi.
Selain sebagai tujuan wisata, Pulau Rubiah merupakan tempat penelitian biota laut. Terdapat 15 jenis biota laut yang dilindungi oleh pemerintah Indonesia. Setelah lelah melakukan kegiatan menyelam atau snorkeling, Anda dapat memanjakan perut Anda di warung makan satu-satunya yang terdapat di pulau ini. Untuk masalah fasilitas dan akomodasi, Pulau Rubiah memang masih sangat minim, karena pulau ini masih belum berpenghuni.

Lokasi

Pulau Rubiah berada di Pulau Weh, Sabang, Aceh, Sumatera.

Akses

Untuk menuju Pulau Rubiah, Anda dapat melalui rute dari Banda Aceh Menuju Pulau Weh dengan menggunakan kapal ferry atau kapal cepat. Waktu yang ditempuh jika menggunakan kapal ferry sekitar 90 menit, untuk kapal cepat hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Sesampainya di Pulau Weh, Anda dapat melanjutkan perjalanan untuk menuju ke Pulau Rubiah dengan menggunakan perahu motor yang membutuhkan waktu sekitar 20 menit.

Fasilitas dan Akomodasi

Meskipun merupakan tujuan wisata terkenal, namun Taman Laut Rubiah masih sangat minim untuk masalah fasilitas dan akomodasi. Hanya terdapat satu warung makan, tempat persewaan perlengkapan menyelam dan snorkeling dan tempat persewaan perahu yang dapat digunakan untuk kegiatan menyelam atau snorkeling.

Taman Wisata Alam Laut Pulau Weh

Keindahan Pulau Weh
Pulau Weh merupakan salah satu tujuan wisata alam yang terkenal dengan keindahan taman lautnya. Di pulau ini terdapat satu kota kecil yang bernama Kota Sabang. Tentu Anda tidak asing lagi dengan kota ini, bukan? Kota Sabang berada di ujung paling barat wilayah negara Indonesia dan masuk ke dalam wilayah Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.
 Pulau Weh sebenarnya merupakan bagian dari Pulau Sumatera, namun pada zaman Pleistosen pulau-pulau ini terpisah oleh laut yang terjadi akibat meletusnya gunung berapi. Pulau Weh masih terlihat sangat alami dan menakjubkan. Bahkan keindahan taman laut di pulau ini bisa disejajarkan dengan Taman Laut Bunaken di Sulawesi Utara. Maka tidak heran jika pemerintah menetapkan Pulau weh sebagai salah satu tujuan wisata nasional, terbukti dengan banyaknya turis asing maupun lokal yang melancong ke Sumatera untuk merasakan keindahan pemandangan alam taman lautnya.

Objek Wisata

Di kawasan TWA Laut Pulau Weh, Anda dapat melakukan berbagai macam aktivitas olahraga air seperti berselancar, berenang, memancing, menjelajah dengan perahu, snorkeling dan menyelam. Menikmati alam bawah air dengan spesies penghuni bawah laut Pulau Weh merupakan daya tarik utama di objek wisata ini. Keanekaragaman jenis ikan dan keindahan terumbu karangnya, baik terumbu karang yang keras maupun terumbu karang yang lunak dari berbagai jenis, bentuk dan warna, yang keseluruhannya membentuk gugusan karang yang indah untuk dinikmati oleh mata manusia. Beberapa terumbu karang yang ada yaitu Karang Lupas, Karang Rusa dan Karang Kerupuk.
Gemar menyelam? Jika jawaban Anda adalah ya, maka tempat wisata yang satu ini sangat tepat untuk Anda. Beberapa lokasi terkenal di taman lautnya di Pulau Weh adalah Pantai Iboih, Pantai Gapang dan Pantai Rubiah. Di sini akan banyak kita temui berbagai macam jenis ikan karang seperti Parrot Fish, Tropet Fish, Dunsel Fish dan Angel Fish, karena Laut Pulau Weh memiliki potensi wisata alam laut yang cukup tinggi.
Di dalam kawasan TWA Pulau Weh, Anda juga dapat menemukan Tugu Nol Kilometer yang terletak di ujung Pulau Weh. Tidak hanya itu, Selain memiliki pemandangan alam yang menakjubkan, pengunjung pun akan dibuat terkagum-kagum dengan gua-gua alam yang digunakan untuk pertahanan tentara Jepang pada Perang Dunia II. Tidak jelas dari mana asal-usulnya, Pulau Weh juga disebut sebagai pulau legenda yang memiliki nama lain “Golden Island”.

Lokasi

Pulau Weh berada sekitar 32 km dari Banda Aceh, Ibukota Provinsi NAD, Indonesia. Secara administrasi TWA Laut Pulau Weh termasuk Kecamatan Sukakarya, Kotamadya Sabang, Provinsi Daerah Istimewa Aceh.

Akses

Untuk berkunjung ke Pulau Weh ini Anda bisa menumpang kapal fery dari Kota Banda Aceh dan dapat ditempuh sekitar 2 jam. Bila Anda sudah tidak sabar ingin segera tiba di tempat tujuan, Anda bisa menumpang kapal cepat. Hanya, tarif yang harus Anda bayar menjadi lebih tinggi.

Harga Tiket Masuk

Untuk dapat menikmati “surga” Pulau Weh ini, Anda hanya perlu merogoh kantong kira-kira Rp. 300.000,- untuk menyelam dan sekitar Rp. 50.000,- untuk sekedar snorkelling di sana, harga yang sangat terjangkau untuk keindahan alam yang super mewah.

Fasilitas dan Akomodasi

Beberapa fasilitas dan akomodasi yang akan Anda temukan di sekitar Taman Wisata Alam Pulau Wehadalah pondok-pondok penginapan di sekitar Pantai Iboih yang dibangun oleh masyarakat, shelter, MCK, masjid, kios cendera mata dan hotel yang terdapat di Gapang. Selain itu terdapat juga berbagai fasilitas yang berada di Pulau Rubiah yang dibangun oleh Dinas Pariwisata Dati I D.I. Aceh antara lain yaitu pusat kegiatan menyelam yang dilengkapi dengan fasilitasnya (perahu motor dan peralatan selam), mushola, shelter, MCK, rumah jaga, menara pengawas, jalan setapak, dan taman. Bahkan, Anda tidak perlu takut kehabisan baterai kamera atau ponsel demi mendokumentasikan masa-masa liburan Anda di tempat indah ini, sebab instalasi listrik sudah tersedia di sini.

Kota Tapaktuan Aceh, Antara keindahan Alam dan Cerita Rakyatnya

Kota Tapaktuan
Propinsi Aceh yang terletak disebelah paling ujung dari Indonesia yang memiliki destinasi wisata yang beraneka ragam. Propinsi Aceh yang kental akan masyarakat yang agamis ternyata mempunyai sebuah kota yang menjadi destinasi wisata dan mempunyai cerita rakyat yang meninggalkan jejak sampai sekarang. Kota Tapaktuan masih menyimpan banyak peninggalan jaman dahulu yang melegenda. Bahkan cerita rakyat ini sampai dibuatlah sebuah buku cerita rakyat.
Obyek Wisata
Kota Tapaktuan yang terletak di Kabupaten Aceh Selatan ini mempunyai luas 92,68 kilometer persegi dan mempunyai jumlah penduduk sekitar 22,343 jiwa. Pada saat bencan sunami tahun 2004 kota ini terlindung oleh Pulau Simeulue yang memecah ombak yang dahsyat dan mengurangi intensitas ombak sampai ke pesisir pantai. Kota ini menyimpan cerita legenda naga dan kenekaragaman wisata yang masyarakat belum banyak yang mengetahui.
Kota ini termasuk dalam kota iklim tropis basah karena berada diketinggian 500 mdpl, memiliki keanekaragaman keindahan alam, teluk yang indah dan gugusan pantai berkarang. Berbagai keindahan destinasi wisata ada disini seperti Pantai Teluk Tapaktuan dan Pantau Labuhan Haji. Selain itu ada juga wisata menarik lainnya. Yaitu, Wisata Air Dingin, Panorama Hatta, Pulau Dua, Genting Buaya, Ia Sejuk Panjupian, Air Terjun Twi Lhok, Batu Berlayar, atau Gua Kalam.
Kota Tapaktuan juga yang lebih dikenal dengan Kota Naga berasal dari sebuah legenda Putri Naga dan Tuan Tapa. Cerita legenda itu sudah menjadi cerita lisan secara turun menurun bagi warga Kota Tapaktuan. Suasana tersebut juga akan terasa sejak kita memasuki Kota Tapaktuan, sebuah lukisan naga yang terpampang di suatu tembok pinggir jalan.
Legenda tersebut mengisahkan 2 ekor naga yang diusir dari Tiongkok karena tidak mempunyai keturunan. Sepasang naga tersebut mendiami sebuah teluk yang sekarang terkenal dengan Teluk Tuantapa. Suatu hari sepasang naga tersebut menemukan seorang bayi perempuan yang terapung ditengah lautan, kemudian sepasang naga merawat bayi tersebut dengan kasih sayang dan beranjak dewasa menjadi seorang putri yang cantik. Suatu ketika datanglah sebuah kapal dari Kerajaan Asranaloka dari India yang dahulu telah kehilangan putrinya, sang raja mengenali gadis tersebut sebagai bayinya yang dulu terhanyut terbawa air laut dan hendak memintanya kembali kepada sepasang naga. Tetapi sepasang naga menolak dan terjadi sebuah perkelahian antara raja dan sepasang naga tersebut. Dalam perkelahian tersebut, Tuan Tapa yang terusik dalam pertapaannya mencoba melerai perkelahian dan meminta kepada sang naga untuk mengembalikan putri tersebut. Akan tetapi sepasang naga menolak dan mengajak bertarung Tuan Tapa. Terjadilah perkelahian antara Tuan Tapa, sepasang naga dan sepasang naga pun kalah dan sang putri dikembalikan kepada orang tuanya. Putri tersebut dijuluki sebagai Putri Naga dan kembali bersama keluarga, akan tetapi keluarga raja tidak kembali ke Kerajaan Asranaloka melainkan menetap di pesisir pantai. Keberadaan mereka diyakini sebagai cikal bakal masyarakat Tuantapa.
Naga jantan mati terbunuh dengan tubuh yang hancur, hati dan tubuhnya hancur membentuk batuan hitam yang berbentuk hati dan kini dikenal dengan batu Hitam. Darah nagapun berubah menjadi batu yang dikenal dengan batu Merah. Tuan Tapa pun juga meninggalkan jejak kaki yang sekarang masih ada dipesisir pantai, tongkat dan sorbanya membatu hitam beberapa ratus meter dari jejak kakinya. Melihat naga jantan mati, naga betina mengamuk dan membelah pulau menjadi dua yang sekarang dikenal dengan Pulau Dua. Pulau Terbesarpun menjadi sasaran naga amukan naga betina dan memporak-porandakan pulau tersebut menjadi 99 pulau kecil. Gugusan Pulau kecil tersebut dinamakan Pulau Banyak yang berada di Kabupaten Aceh Singkil.
Setelah kejadian itu, Tuan Tapa jatuh sakit, kemudian meninggal pada Ramadhan tahun 4 Hijriyah. Jasadnya dikebumikan di dekat Gunung Lampu, di depan Mesjid Tuo, Gampong Padang, Kelurahan Padang, Kecamatan Tapaktuan. Sampai sekarang ini makam keramat itu sering dikunjungi peziarah dari dalam dan luar negeri. Makamnya sendiri mengalami beberapa kali pemugaran semasa Pemerintahan Hindia Belanda.
Lokasi
Kota Tapaktuan berada di Kabupaten Aceh Selatan, Propinsi Nangro Aceh Darusallam.
Akses
Kota Tuantapa dapat ditempuh melalui jalur udara, jalur darat dan jalur laut. Apabila menggunakan jalur udara, dapat dituju melalui Bandar Udara Teuku Cut Ali Tapaktuan dari Bandar Udara Polonia Medan atau Bandar Udara Iskandar Muda di Banda Aceh. Dengan Jalur darat dapat ditempuh dari Kota Medan selama sekitar 8 jam perjalanan ke Kota Tuantaopa dan 3 jam perjalanan dari Meulaboh Aceh. Apabila menggunakan jalur laut bisa berangkat dari Pelabuhan Laut Sibolga Sumatera Utara, Pelabuhan Padang Sumatera Barat, Pelabuhan Sinabang di Semeuleu, Singkil, dan Pulau Banyak di Aceh Singkil.
Fasilitas dan Akomodasi
Ada berbagai penginapan dari losmen, homestay sampai hotel ada di kota ini. Berbagai alat transportasi juga lengkap, wisata kuliner yang paling terkenal di Kota Tuantapa adalah Kue Pala.