Tampilkan postingan dengan label Sumatera Utara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sumatera Utara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Januari 2015

Kota Medan, Pintu Gerbang Utara Sumatera

Menara Tirtanadi, Ikon Kota Medan
Salah satu tujuan berlibur paling terkenal di Pulau Sumatera adalah Danau Toba yang di tengahnya terdapat pulau fantastik bernama Pulau samosir. Tahukah Anda? ke dua objek wisata ini terletak di Provinsi Sumatera Utara, dengan Medan sebagai ibukotanya. Kota Medan merupakan kota terbesar di Pulau Sumatera.
Mayoritas Penduduk Kota Medan adalah suku Batak. Suku ini adalah salah satu suku yang cukup besar di Indonesia. Bahasa Batak “horas” cukup populer didengar sebagai salam saat mereka saling bertemu atapun menyapa orang lain.

Geografi

Kota Medan terletak di bagian utara Pulau Sumatera. Posisi koordinatnya adalah 3°35′LU dan 98°40′BT. Kota Medan berbatasan dengan Selat Malaka di sebelah utara dan Kabupaten Deli Serdang di sebelah barat, timur, dan utara.
Medan Sumatera menjadi tempat yang strategis sebab berada di jalur pelayaran Selat Malaka. Dengan demikian, kota ini menjadi pintu gerbang kegiatan ekonomi domestik dan mancanegara yang melalui Selat Malaka. Selain itu, Medan juga berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan juga beberapa daerah kaya sumber daya alam, mempengaruhi kemampuan Medan dalam hal ekonomi sehingga memiliki hubungan kerjasama yang saling memperkuat dengan daerah sekitarnya.
Luas Kota Medan adalah sekitar 26.510 hektar atau setara dengan 265,10 km². Dengan kata lain, Kota Medan memiliki wilayah 3,6% dari keseluruhan Sumatera Utara. Kota Medan jika diperlihatkan secara topografinya cenderung miring ke utara. Kota ini berada pada 2,5 hingga 3,5 meter di atas permukaan laut.
Beberapa Sungai yang mengaliri Kota Medan adalah Sungai Belawan, Sungai Badera, Sungai Sikambing, Sungai Putih, Sungai Babura, Sungai Deli, Sungai Sulang-Saling, Sungai Kera, dan Sungai Tuntungan. Pemerintah juga telah membuat kanal besar dengan nama Medan Kanal Timur agar dapat mencegah banjir di beberapa wilayah Kota Medan. Menara Air Tirtanadi adalah sebuah bangunan yang menjadi ikon Kota Medan.
Kota Medan dipimpin oleh seorang walikota. Secara administratif, Medan terdiri atas 151 kelurahan dan 21 kecamatan, diantaranya adalah :
  1. Medan Tuntungan
  2. Medan Johor
  3. Medan Amplas
  4. Medan Denai
  5. Medan Area
  6. Medan Kota
  7. Medan Maimun
  8. Medan Polonia
  9. Medan Baru
  10. Medan Selayang
  11. Medan Sunggal
  12. Medan Helvetia
  13. Medan Petisah
  14. Medan Barat
  15. Medan Timur
  16. Medan Perjuangan
  17. Medan Tembung
  18. Medan Deli
  19. Medan Labuhan
  20. Medan Marelan
  21. Medan Belawan

Budaya

Berdasarkan sensus tahun 2010, jumlah penduduk Kota Medan adalah 2,109,330 jiwa. Mayoritas penduduk Kota Medan adalah suku Batak, beberapa suku lainnya yang turut berdomisili di kota ini adalah suku Jawa, Tionghoa, Mandailing, Minangkabau, Melayu, Karo, Aceh, Sunda, dan Tamil. Selain itu, Suku pendatang dari ras Tionghoa juga menjadi bagian dari penduduk Medan.
Bahasa yang kerap digunakan penduduk sehari-hari adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Batak, dan Bahasa Mandailing. Anda perlu mempelajari beberapa bahasa Batak yang sering digunakan masyarakat setempat agar dapat menjalin komunikasi yang lebih akrab selama berwisata di kota ini. Suku Melayu banyak yang memilih tinggal di pinggiran kota sementara untuk suku Minangkabau dan Tionghoa lebih dominan tinggal di tempat-tempat ramai karena banyak diantaranya yang menjadi pedagang. Lain lagi dengan suku Mandailing, mereka akan banyak dijumpai tinggal di daerah pinggiran yang lebih nyaman dan tidak sepadat di kawasan perkotaan.
Islam dan Kristen Protestan adalah agama yang dominan di kota ini. Setelahnya, secara berurutan adalah agama Katholik, Budha dan Hindu. Kota Medan, seperti halnya Indonesia secara umumnya, memberikan kebebasan kepada setiap masyarakat untuk dapat melakukan ibadah sesuai dengan kepercayaan masing-masing. Sehingga, tidak sulit menemukan rumah ibadah saat anda berada di kota ini.
Aset budaya suku Batak yang sangat terkenal salah satunya adalahkain Ulos. Kain Ulos secara umum memiliki bentuk seperti selendang, tetapi bahan dan kegunaannya tentu berbeda. Kain Ulos secara khusus digunakan dalam berbagai upacara adat, baik itu perayaan pernikahan, pesta adat, kelahiran, ataupun duka saat anggota suku meninggal dunia. Cara pemakaiannya juga berbeda antara pria dan wanita. Kain Ulos biasanya tetap digunakan oleh suku Batak unutk acara-acara adat sekalipun mereka sudah tidak berdomisili di kampung halamannya.
Kota Medan termasuk salah satu kota yang mengalami perkembangan dan modernisasi yang cukup pesat dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Sumatera. Sekalipun demikian, Kota Medan tetap menjadi istana wisata alam yang kemahsyurannya sudah terdengar hingga ke mancanegara.

Wisata

Selain wisata alam, Kota Medan juga kaya akan objek wisata sejarah, pendidikan, serta tempat liburan yang modern. Semuanya tersaji secara lengkap di kota ini. Tidak hanya itu, kuliner khas kota Medan juga akan memanjakan lidah Anda dengan resep-resep khasnya yang akan membuat Anda ketagihan. Jalur-jalur transportasi baik dari darat, perairan, dan udara untuk menuju tempat-tempat wisata juga selalu mengalami pengembangan dan perbaikan demi menciptakan kota Medan yang ramah akses. Layanan dan fasilitas umum pun tersebar dan akan semakin memudahkan Anda dalam memenuhi setiap kebutuhan selama berlibur.
Banyak sekali tempat wisata yang dapat Anda kunjungi, antara lain:
  • Danau Toba
  • Pulau Samosir
  • Pemandian air panas
  • Air terjun
  • Istana Maimun
  • Gedung Balai Kota lama
  • Kantor Pos Medan
  • Menara Air Tirtanadi sebagai ikon kota Medan
  • Titi Gantung yaitu sebuah jembatan di atas rel kereta api
  • Gedung London Sumatera
  • Masjid Raya Medan
Selain itu juga terdapat beberapa bangunan tua yang cocok sekali bagi Anda pecinta wisata sejarah, seperti:
  • Kantor Balai Kota
  • Stasiun Kereta Api Lama
  • Menara Bakaran Batu
  • Tjong A Fie Mansion
  • PT PP London Sumatera
  • Gedung Sekolah Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Medan
Yakinlah, Anda akan menghabiskan satu kertas penuh untuk menuliskan lokasi-lokasi wisata dalam daftar panjang liburan Anda di Kota Medan!
(Written by Ika Wahyuni)

Pulau Samosir, Pesona Alam Tengah Danau

Kekayaan alam wisata Sumatera Utara sudah tidak diragukan lagi. Berbagai macam objek wisata dapat Anda jelajahi di wilayah daratan ini. Mulai dari luasnya laut, keindahaan pantai, keajaiban goa, budaya, hingga sejarah. Tidak hanya itu, pulau yang juga membentang di dalam daratan Sumatera juga layak Anda kagumi. Salah satunya yang paling populer adalah Pulau Samosir.

Objek Wisata

Keindahan pemandangan di Pulau Samosir Sumatera Utara akan membius Anda sejenak. Bagaimana tidak? Sebuah pulau vulkanik nan indah terbentang di tengah Danau Toba, yang juga merupakan danau terluas di Asia Tenggara. Anda akan menemukan udara sejuk dan segar selama berada di tempat wisata Sumatera Utara ini.
Samosir sendiri merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Petualangan Anda di Samosir Sumatera akan diwarnai riak khas dari tiap kecamatan dengan magnetnya masing-masing. Bagi para pecinta alam domestik, nama Pulau Samosirpastilah sudah tidak asing lagi.
Tidak hanya wisata alam saja yang ditawarkan, Anda juga akan disuguhkan wisata sejarah yang masih terasa nuansa kebudayaannya. Beberapa diantaranya seperti menyaksikan pertunjukan Sigale-gale (di Tomok), berkeliling Museum Huta Bolon, mengunjungi Makam Raja Sidabutar, serta keunikan Batu Parsidangan.
Apabila Anda melihat sekeliling, akan tampak seolah tiap jengkal tepi pulau Samosir Sumatera dipagari oleh jernihnya perairan Danau Toba yang begitu luas. Sungguh menakjubkan! Masih belum cukup? Anda bisa berkelana sejenak di Goa Marlakkop, bersantai di pemandian air panas, dan masih banyak lagi.
Pesona pulau di tengah danau dengan ketinggian 1000 mdpl ini membuatnya menjadi kunjungan ‘wajib’ bagi para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Jangan heran bila Anda ingin kembali lagi ke tempat ini, saat Anda sudah berada di rumah.

Lokasi

Pulau Samosir terletak di Sumatera Utara, berada tepat di tengah Danau Toba. Apabila Anda berangkat ke Medan menggunakan pesawat terbang, maka perjalanan dari Bandara Polonia menuju Pulau Samosir akan menghabiskan waktu sekitar 4 hingga 5 jam perjalanan darat. Sesampainya di lokasi, kepenatan Anda akan dibayar dengan kesempurnaan pemandangan alam yang dimiliki Samosir.

Akses

Terdapat banyak akses untuk menuju Pulau Samosir. Bagi Anda yang sudah bosan dengan perjalanan darat, tidak perlu khawatir. Terdapat tiga jalur perairan melalui Danau Toba, diantaranya melalui Pelabuhan Ajibata ke Pelabuhan Tomok, melalui Tigaras menuju Simanindo dan juga dari Muara menuju Nainggolan.
Khusus untuk jalur melalui Muara menuju Nainggolan, kapal Ferry hanya beroperasi pada hari Senin, Kamis dan Sabtu. Perjalanan darat menuju pulau di tengah danau dapat Anda tempuh melalui jembatan yang dibangun pada masa Belanda. Pilihan perjalanan ini akan membawa Anda melalui Jalan Tele, yaitu jalur yang menghubungan Samosir dengan Kabupaten Humbang Hasundutan. Jika Anda memutuskan untuk menikmati perjalanan dengan menyetir sendiri pastikan tetap waspada, sebab jalanan cukup licin dan berkelok meski secara keseluruhan sudah beraspal.

Harga Tiket

Dalam hal biaya, yang paling menonjol adalah biaya dalam penggunaan alat transportasi. Untuk kapal Ferry, pembayaran tergantung pada kapasitas penumpang. Biaya akan semakin besar jika Anda turut serta menyeberangkan kendaraan roda empat. Harga Ferry untuk akses Ajibata menuju Tomok adalah Rp.91.500 termasuk mobil roda empat beserta seluruh penumpangnya. Hitungan yang sama berlaku juga untuk Ferry yang melalui akses Simanindo menuju Tigara, hanya patokan harga sedikit lebih tinggi yaitu Rp.95.000. Sedangkan untuk pilihan akses dari Nainggolan menuju Muara dikenai biaya sebesar Rp.99.000. Walau begitu, rupiah yang Anda keluarkan akan terbayarkan dengan keindahan surgawi alam Pulau Samosir yang tiada duanya.

Fasilitas Dan Akomodasi

Pulau Samosir senantiasa mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Sehingga Anda akan dilayani dengan berbagai fasilitas dan kemudahan. Mulai dari penginapan yang ditawarkan dengan harga relatif terjangkau, yaitu kisaran Rp.50.000 hingga Rp.200.000, seperti Pandu Lak Side Hotel Tuktuk. Berbagai menu kuliner khas Suku Batak, pusat pariwisata, serta keberadaan ATM di ibukota Samosir (Kota Pangururan) sehingga Anda tidak perlu membawa uang cash dalam jumlah yang banyak. Jadi, tunggu apalagi?
(written by Ika Wahyuni)

Daun Sang, Daun Raksasa Penghuni Sumatera

Daun Sang
Kala mendengar kata raksasa dalam kelas flora, masyarakat Indonesia biasanya segera membayangkan Bunga Raflesia Arnoldi yang ditemukan di Provinsi Bengkulu. Barangkali Anda pun demikian. Jika ya, Anda perlu tahu bahwa kali ini topik yang akan dibahas adalah suatu jenis flora yang memiliki daun ukuran raksasa dengan segala detail khasnya.
Kementerian Kehutanan RI mengklain Daun Sang sebagai tanaman endemik Sumatera, namun dari berbagaai sumber juga menyebutkan, bahwa jenis flora Sumatera ini juga terdapat di Inggris, Thailand, Malaysia, dan Cina. Daun Sang ditemukan oleh seorang profesor botani asal Belanda yaitu Prof. Teijsman. Tanaman khas ini ditemukan di Sumatera Indonesia awal abad lalu. Nama ilmiah dari Daun Sang adalah Johannestijsmania altifrons. Ukuran daun ini akan membuat Anda tak percaya jika tidak melihat langsung. Daun Sang dapat melebar hingga 1 meter dengan panjang mencapai 6 meter.
Penasaran? Daun super besar ini berbentuk runcing di bagian pangkal dan ujung, serta melebar di tengahnya. Tepian Daun Sang juga sangat unik karena bergerigi, namun tentunya gerigi ini tidak akan melukai Anda. Dapat dikatakan, ukuran batang yang dimilikinya tidak mengimbangi ukuran daunnya. Apalagi batang tersebut tertanam di dalam tanah yang mana sesaat daun ini seolah tumbuh begitu saja secara ajaib tanpa satu batang pun menopangnya.
Perkembangbiakan Daun Sang berasal dari bijinya yang tertutup. Karakter kulit biji tanaman ini adalah bulat, cukup tebal, juga bergerigi. Akibat ukuran daunnya yang di atas normal itu, masyarakat dahulu kerap memanfaatkan Daun Sang sebagai atap rumah ataupun atap gubuk di ladang. Tidak sulit untuk pengolahannya, sederhana saja. Anda hanya perlu menjemur helai daun hingga cukup kering dan kemudian dianyam sampai tuntas hingga menjadi atap. Cara yang dipilih masyarakat setempat ini cukup efektif sebab atap dari bahan Daun Sang tahan selama bertahun-tahun.
Saat Anda menemukan Daun Sang, cobalah perhatikan sekitar. Pastilah Anda akan melihat pohon yang rindang tumbuh berdekatan dengan daun ini. Tahu kenapa? Sebab Daun Sang tidak tahan panas. Ini menyebabkan Daun Sang hanya akan tumbuh di tempat yang terlindungi dari sinar matahari. Biasanya, tanaman ini tumbuh di bawah pohon rindang agar dapat melindunginya dari teriknya sinar matahari. Pola tumbuhnya pun berkelompok atau dalam rumpun yang cukup ramai.
Sayangnya, Daun Sang masuk dalam daftar tanaman yang hampir punah saat ini. Pembukaan lahan, illegal lodging, dan pembakaran hutan memberikan pengaruh yang sangat buruk bagi keberlangsungan makhluk hidup di dalamnya, termasuk Daun Sang. Dengan mengupayakan pencegahan pembukaan hutan berarti mencegah punahnya jenis tumbuhan raksasa ini. Kondisi Daun Sang yang tidak tahan panas semakin memperparah perkembangbiakannya. Sebab pepohonan rindang yang berperan melindunginya dari sengatan matahari, kini sudah semakin menipis. Kalaupun masih ada, Daun Sang juga tidak memiliki habitat yang leluasa lagi. Keadaan ini tentunya berbeda dengan masa dahulu dimana hutan kita masih terjaga kerimbunannya dan bebas dari pembakaran. Oleh sebab itu, jika kini Anda telah mengetahui keberadaan Daun Sang sebagai salah satu kekayaan hayati yang dimiliki tanah air, Anda bertanggungjawab untuk menularkan pengetahuan tersebut kepada orang-orang sekitar agar anak cucu kita tidak merasa asing mendengar dan mengetahui persisnya jenis juga bentuk dari Daun “Raksasa” Sang.
(Written by Ika Wahyuni)

Gunung Sibayak, Puncak Sumatera Utara

Gunung Sibayak
Danau Toba, Pulau Samosir, dan Air Terjun Dua Warna masih belum cukup mewakili keragamanpanorama alam Sumatera Utara. Ingin merasakan wisata mendaki ketinggian gunung? Jika jawabannya Ya, maka ini adalah pilihan yang sangat sesuai bagi Anda. Terutama yang senang “bersusah-susah” untuk menikmati keagungan alam ciptaan Sang Kuasa. Gunung Sibayak, hanya dengan berjuang mendaki dari awal hingga ke puncaknya-lah Anda akan dapat menyaksikan bentangan pemandangan luar biasa dengan petualangan yang tak terlupakan. Tak jarang pula gunung ini disebut dengan “Gunung Raja”, sebab arti dari kata Sibayak itu sendiri adalah “Raja”. Menurut cerita penduduk, dahulunya tanah karo dikuasai oleh 4 Raja (Sibayak), yaitu Sibayak Lingga, Sarinembah, Suka, Barusjahe dan Kutabuluh.

Objek Wisata

Gunung Sibayak adalah kelas gunung berapi aktif yang memiliki uap panas. Selain itu, letusan yang terjadi beberapa waktu lalu cukup mengguncang bebatuan di puncak gunung. Kondisi yang cukup “tidak beraturan” pada bebatuan puncak nya ini, justru menjadi keunikan tersendiri yang menarik wisatawan yang senang menguji adrenalinnya untuk berusaha menaklukkan Gunung Sibayak hingga mencapai puncaknya. Pemandangan matahari terbit dari puncak gunung akan membuat anda terperangah. Kilau kemunculan sinar matahari akan menerpa wajah Anda memberikan suasana hangat, menggantikan hawa dingin yang semalaman menyelimuti perjalanan Anda. Ya, demi melihat sunrise memang ramai pendaki memilih mendaki di malam hari. Idealnya, Anda harus mulai melangkah dari kaki gunung pada pukul 02.00 dini hari. Tidak perlu khawatir, sebab suasana di malam hari tetap akan memukau Anda. Ditambah lagi cahaya-cahaya lampu rumah penduduk yang menerangi langit Gunung Sibayak. Sesaat membuat Anda merasa sedang berada di bulan karena kondisi pijakan selama pendakian yang penuh batuan.
Selain keindahan pemandangan puncaknya, aliran air dari sela-sela batuan gunung akan sangat menyegarkan Anda. Penduduk banyak yang memanfaatkannya sebagai sumber air minum. Air nya dingin dan sangat jernih. Inilah alasan utama sumber air pegunungan yang terus mengalir ini menjadi salah satu sumber air untuk air minum kemasan merek “AQUA”.
Terlepas dari kawasan puncak, Gunung Sibayak masih menyimpan kemegahannya. Kawasan lainnya yang sering dijadikan objek berfoto bagi para pendaki adalah kawah Gunung Sibayak. Di dalam kawah ini terletak batu cadas dengan kawah belerang seluas 40.000 meter. Kandungan solfatara membuatnya tak berhenti menyemburkan uap panas. Bagian yang landainya dapat dijadikan tempat Anda untuk beristirahat sejenak di dalam tenda. Akhir pekan atau hari libur sekolah akan sangat berpengaruh terhadap pertambahan jumlah pendaki gunung.

Lokasi

Gunung Sibayak berlokasi di dataran tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Ketinggian Gunung yang kerap menjadi objek pendakian ini mencapai 2.094 meter dpl. Secara administratif, hutan alam pegunungan ini masuk dalam dalam kategori Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan. Puncak tertinggi dari Gunung Sibayak bernama “Takal Kuda”. Ini adalah bahasa Karo yang berarti “Kepala Kuda”. Posisi koordinat puncaknya adalah berada pada 97°30’BT dan 4°15’LS.

Akses

Berangkat dari Kota Medan, Anda akan menempuh jarak sejauh 77 km dengan waktu kurang lebih 2 jam untuk sampai di Berastagi. Anda bisa memilih kendaraan roda dua atau roda empat. Setelah itu, untuk mencapai lokasi, terdapat dua pilihan rute, diantaranya perjalanan dari Berastagi atau dari Desa Semangat Gunung.
Terdapat tiga pintu masuk hutan gunung yang bisa Anda pilih untuk menuju puncak Gunung Sibayak. Menelusuri jalan setapak sepanjang hutan tropis dan hamparan tebing curam. Jalur masuk tersebut adalah melalui Desa Raja Berneh (Semangat Gunung), Jalur 54, Penatapan jagung rebus dan Jaranguda yang berjarak sekitar 500 meter dari Kota Berastagi.

Harga Tiket

Anda akan dimintai retribusi sebesar Rp 2.000,- per orang sebelum memasuki lokasi gunung. Jadi pastikan Anda telah menyiapkan uang pas untuk membayarnya.

Fasilitas dan Akomodasi

Posisi Gunung Sibayak yang terletak di Kota Berastagi, akan memudahkan Anda untuk mencicipi kuliner-kuliner khas Berastagi yang dijajakan di sepanjang jalan Kota. Anda juga tidak akan kesulitan menemukan tempat penginapan kelas melati hingga hotel berbintang. Hotel yang direkomendasikan dan dekat dengan objek wisata ini yaitu Grand Mutiara Hotel. Tetapi, di lokasi pegunungan ini, tentunya Anda hanya akan bercengkerama dengan alam asri hutan tanpa ada fasilitas modern di dalamnya.
(written by Ika Wahyuni)

Air Terjun Sipiso-piso

Air Terjun sipiso piso
Air Terjun Sipiso-piso merupakan salah satu tempat wisata di Pulau Sumatera. Berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang tidak begitu jauh dari pemukiman penduduk Desa Tongging. Air terjun ini berada di perbukitan dengan ketinggian sekitar 800 mdpl dan dikelilingi oleh hutan pinus. Pengelolaan wisata alam air terjun ini dipegang oleh Pemda Kabupaten Karo. Dengan memiliki ketinggian sekitar 120 meter, Air Terjun Sipiso-piso merupakan salah satu air terjun tertinggi di Indonesia. Dengan adanya air terjun ini, Kabupaten Karo menjadi salah satu tempat wisata yang paling diminati oleh para wisatawan domestik dan mancanegara.

Objek Wisata

Anda akan terkagum-kagum dengan pesona Air Terjun Sipiso-piso, ketika Anda berada di Desa Tongging, tempat di mana air terjun ini berada. Sebelum Anda melihat air terjun ini dari dekat, berkunjunglah di gardu pandang yang terletak di puncak bukit. Anda akan melihat hamparan keindahan Tanah Karo. Dari gardu pandang ini juga, Anda dapat menikmati keindahan Pulau Samosir, pulau yang berada di tengah Danau Toba.
Setelah Anda puas menikmati pemandangan nan indah dari jauh, Anda dapat melanjutkan perjalanan menelusuri punggungan bukit untuk bercengkerama dengan keindahan Air Terjun Sipiso-piso. Namun, Anda tidak perlu khawatir dalam menelusuri punggungan bukit tersebut, karena sudah disediakan jalur yang berupa anak tangga dan memang disediakan untuk para wisatawan. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai dasar air terjun ini. Dalam perjalanan tersebut, jangan lupa untuk mengabadikan momen indah ini dengan berfoto-foto dengan latar belakang Danau Toba.
Sesampainya di dasar air terjun, arahkan pandangan Anda ke bukit-bukit yang ada di sekeliling air terjun. Dengan perpaduan hijaunya pepohonan pinus yang rimbun dan suara gemuruh air terjun, membuat suasana hati dan pikiran Anda terasa damai dan tenteram. Jangan lupa untuk membawa bekal makanan untuk dinikmati bersama keluarga Anda setelah lelah bermain air di Air Terjun Sipiso-piso.

Lokasi

Air Terjun Sipiso-piso berada di Desa Tongging, Kec. Merek, Kab. Karo, Sumatra Utara. Kecamatan Merek terletak kurang lebih 24 km dari Kota Kabanjahe.

Akses

Jika Anda menggunakan transportasi umum dari Medan, Sumatera Utara. Anda dapat menggunakan bus dengan jurusan Kota Kabanjahe dengan waktu kurang lebih 2 jam. Kemudian, setelah sampai di Kabanjahe, perjalanan dilanjutkan dengan bus menuju Danau Toba. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit dengan jarak tempuh sekitar 24 Km.

Fasilitas dan Akomodasi

Beberapa fasilitas di Air Terjun Sipiso-piso cukup memadai, seperti tersedianya lahan parkir dan warung makan. Untuk penginapan Anda bisa menemukannya di Desa Tongging dan Desa Kabanjahe. Untuk membeli oleh-oleh bagi kerabat atau teman, Anda bisa membelinya di toko souvenir yang ada di tempat wisata ini. Jika Anda masih punya banyak waktu, Anda dapat menyempatkan berkunjung ke Air Terjun Dua Warna yang berada tidak jauh dari Air Terjun Sipiso-piso.

Beo Nias, Burung Endemik Sumatera Utara

Beo Nias
Pulau Sumatera memiliki flora fauna yang sangat khas, salah satunya yaitu burung Beo Nias. Dari segala jenis burung, Burung Beo merupakan salah satu yang paling unik. Bagaimana tidak? Spesies ini mampu berbicara dengan cara mengulang perkataan manusia yang didengarnya. Di Indonesia sendiri, salah satu provinsi yang dianugerahi kekayaan endemik Beo adalah Pulau Nias, Provinsi Sumatera Utara. Pulau Nias sangat beruntung karena memiliki salah satu jenis burung pintar ini. Bahkan, Beo dari Nias ini tidak hanya mampu menirukan ucapan Anda, melainkan juga suara – suara lain yang didengarnya. Karena kecemerlangannya, burung ini menjadi identitas Sumatera Utara. Maka dari itu tidak heran jika burung Beo Nias termasuk jenis Beo paling dicari di Indonesia.
Beo Nias ini dilindungi oleh negara berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 421/Kpts/Um/8/1970. Ia mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan jenis burung beo lainnya. Bagi orang awam yang tidak mengerti tentang burung beo, mungkin melihat burung Beo Nias ini tidak ada bedanya dengan burung beo lainnya, namun bagi Anda penggemar mereka tentu akan mudah membedakannya karena tubuh burung Beo Nias terlihat lebih besar dan lebih gagah.
Beberapa ciri dari burung Beo Nias yaitu pada bagian kepala memiliki bulu yang pendek. Di sepanjang cuping telinga menyatu di belakang kepala yang berbentuk gelambir (seperti jengger ayam) yang ada di telinga dan berwarna kuning mencolok.
Di bagian sisi kepala dari burung Beo Nias terdapat juga sepasang pial yang berwarna kuning. Iris matanya berwarna coklat gelap. Paruhnya besar serta runcing dan memiliki warna kuning oranye. Pada bagian tubuhnya, tertutup bulu yang berwarna hitam pekat, namun di ujung sayap bulunya berwarna putih. Pada bagian kedua kakinya berwarna kuning dan memiliki jari kaki yang berjumlah empat. Tiga jari menghadap ke depan dan jari lainnya menghadap ke belakang.
Burung Beo Nias memiliki nama latin Gracula religiosa robusta atau Gracula robusta, hidup secara berkelompok atau berpasangan ini hanya bisa ditemui di Pulau Nias dan sekitarnya, seperti Pulau Babi, Pulau Simo, Pulau Tuangku dan Pulau Bangkaru. Biasanya burung Beo Nias membuat sarang mereka di batang pohon tinggi yang berdiri tegak dengan melubanginya. Bersama kelompoknya, Burung Beo Nias ini sangat suka tinggal di alam terbuka.
Makanan yang sangat disukai oleh jenis Beo Nias ini adalah berupa buah-buahan, biji-bijian, dan juga serangga. Dalam berkembangbiak ia memiliki musim bertelur, yaitu antara bulan Desember hingga bulan Mei. Biasanya pohon-pohon yang sudah lapuk atau batang pohon tinggi yang masih berdiri tegak, menjadi tempat yang nyaman dipilih oleh para betina yang hendak bertelur ini. Biasanya betina burung beo yang mulai punah populasinya akan menelurkan 2 hingga 3 butir telur, dan mereka akan mengerami telur yang biasanya berwarna biru muda dengan bercak coklat dan ungu muda dengan ukuran telur yang rata-rata 26-37 mm ini selama kurang lebih tiga minggu lamanya.
Namun sayang karena keunikannya, burung Beo Nias yang cantik ini terancam populasinya di dunia. Banyaknya pemburu yang menginginkan burung ini berdampak pada berkurangnya jumlah dari burung yang didaftar sebagai Least Concern dalam IUCN Redlist dan CITES Apendiks II ini.