Selasa, 20 Januari 2015

Pulau Samosir, Pesona Alam Tengah Danau

Kekayaan alam wisata Sumatera Utara sudah tidak diragukan lagi. Berbagai macam objek wisata dapat Anda jelajahi di wilayah daratan ini. Mulai dari luasnya laut, keindahaan pantai, keajaiban goa, budaya, hingga sejarah. Tidak hanya itu, pulau yang juga membentang di dalam daratan Sumatera juga layak Anda kagumi. Salah satunya yang paling populer adalah Pulau Samosir.

Objek Wisata

Keindahan pemandangan di Pulau Samosir Sumatera Utara akan membius Anda sejenak. Bagaimana tidak? Sebuah pulau vulkanik nan indah terbentang di tengah Danau Toba, yang juga merupakan danau terluas di Asia Tenggara. Anda akan menemukan udara sejuk dan segar selama berada di tempat wisata Sumatera Utara ini.
Samosir sendiri merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara. Petualangan Anda di Samosir Sumatera akan diwarnai riak khas dari tiap kecamatan dengan magnetnya masing-masing. Bagi para pecinta alam domestik, nama Pulau Samosirpastilah sudah tidak asing lagi.
Tidak hanya wisata alam saja yang ditawarkan, Anda juga akan disuguhkan wisata sejarah yang masih terasa nuansa kebudayaannya. Beberapa diantaranya seperti menyaksikan pertunjukan Sigale-gale (di Tomok), berkeliling Museum Huta Bolon, mengunjungi Makam Raja Sidabutar, serta keunikan Batu Parsidangan.
Apabila Anda melihat sekeliling, akan tampak seolah tiap jengkal tepi pulau Samosir Sumatera dipagari oleh jernihnya perairan Danau Toba yang begitu luas. Sungguh menakjubkan! Masih belum cukup? Anda bisa berkelana sejenak di Goa Marlakkop, bersantai di pemandian air panas, dan masih banyak lagi.
Pesona pulau di tengah danau dengan ketinggian 1000 mdpl ini membuatnya menjadi kunjungan ‘wajib’ bagi para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Jangan heran bila Anda ingin kembali lagi ke tempat ini, saat Anda sudah berada di rumah.

Lokasi

Pulau Samosir terletak di Sumatera Utara, berada tepat di tengah Danau Toba. Apabila Anda berangkat ke Medan menggunakan pesawat terbang, maka perjalanan dari Bandara Polonia menuju Pulau Samosir akan menghabiskan waktu sekitar 4 hingga 5 jam perjalanan darat. Sesampainya di lokasi, kepenatan Anda akan dibayar dengan kesempurnaan pemandangan alam yang dimiliki Samosir.

Akses

Terdapat banyak akses untuk menuju Pulau Samosir. Bagi Anda yang sudah bosan dengan perjalanan darat, tidak perlu khawatir. Terdapat tiga jalur perairan melalui Danau Toba, diantaranya melalui Pelabuhan Ajibata ke Pelabuhan Tomok, melalui Tigaras menuju Simanindo dan juga dari Muara menuju Nainggolan.
Khusus untuk jalur melalui Muara menuju Nainggolan, kapal Ferry hanya beroperasi pada hari Senin, Kamis dan Sabtu. Perjalanan darat menuju pulau di tengah danau dapat Anda tempuh melalui jembatan yang dibangun pada masa Belanda. Pilihan perjalanan ini akan membawa Anda melalui Jalan Tele, yaitu jalur yang menghubungan Samosir dengan Kabupaten Humbang Hasundutan. Jika Anda memutuskan untuk menikmati perjalanan dengan menyetir sendiri pastikan tetap waspada, sebab jalanan cukup licin dan berkelok meski secara keseluruhan sudah beraspal.

Harga Tiket

Dalam hal biaya, yang paling menonjol adalah biaya dalam penggunaan alat transportasi. Untuk kapal Ferry, pembayaran tergantung pada kapasitas penumpang. Biaya akan semakin besar jika Anda turut serta menyeberangkan kendaraan roda empat. Harga Ferry untuk akses Ajibata menuju Tomok adalah Rp.91.500 termasuk mobil roda empat beserta seluruh penumpangnya. Hitungan yang sama berlaku juga untuk Ferry yang melalui akses Simanindo menuju Tigara, hanya patokan harga sedikit lebih tinggi yaitu Rp.95.000. Sedangkan untuk pilihan akses dari Nainggolan menuju Muara dikenai biaya sebesar Rp.99.000. Walau begitu, rupiah yang Anda keluarkan akan terbayarkan dengan keindahan surgawi alam Pulau Samosir yang tiada duanya.

Fasilitas Dan Akomodasi

Pulau Samosir senantiasa mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Sehingga Anda akan dilayani dengan berbagai fasilitas dan kemudahan. Mulai dari penginapan yang ditawarkan dengan harga relatif terjangkau, yaitu kisaran Rp.50.000 hingga Rp.200.000, seperti Pandu Lak Side Hotel Tuktuk. Berbagai menu kuliner khas Suku Batak, pusat pariwisata, serta keberadaan ATM di ibukota Samosir (Kota Pangururan) sehingga Anda tidak perlu membawa uang cash dalam jumlah yang banyak. Jadi, tunggu apalagi?
(written by Ika Wahyuni)

Daun Sang, Daun Raksasa Penghuni Sumatera

Daun Sang
Kala mendengar kata raksasa dalam kelas flora, masyarakat Indonesia biasanya segera membayangkan Bunga Raflesia Arnoldi yang ditemukan di Provinsi Bengkulu. Barangkali Anda pun demikian. Jika ya, Anda perlu tahu bahwa kali ini topik yang akan dibahas adalah suatu jenis flora yang memiliki daun ukuran raksasa dengan segala detail khasnya.
Kementerian Kehutanan RI mengklain Daun Sang sebagai tanaman endemik Sumatera, namun dari berbagaai sumber juga menyebutkan, bahwa jenis flora Sumatera ini juga terdapat di Inggris, Thailand, Malaysia, dan Cina. Daun Sang ditemukan oleh seorang profesor botani asal Belanda yaitu Prof. Teijsman. Tanaman khas ini ditemukan di Sumatera Indonesia awal abad lalu. Nama ilmiah dari Daun Sang adalah Johannestijsmania altifrons. Ukuran daun ini akan membuat Anda tak percaya jika tidak melihat langsung. Daun Sang dapat melebar hingga 1 meter dengan panjang mencapai 6 meter.
Penasaran? Daun super besar ini berbentuk runcing di bagian pangkal dan ujung, serta melebar di tengahnya. Tepian Daun Sang juga sangat unik karena bergerigi, namun tentunya gerigi ini tidak akan melukai Anda. Dapat dikatakan, ukuran batang yang dimilikinya tidak mengimbangi ukuran daunnya. Apalagi batang tersebut tertanam di dalam tanah yang mana sesaat daun ini seolah tumbuh begitu saja secara ajaib tanpa satu batang pun menopangnya.
Perkembangbiakan Daun Sang berasal dari bijinya yang tertutup. Karakter kulit biji tanaman ini adalah bulat, cukup tebal, juga bergerigi. Akibat ukuran daunnya yang di atas normal itu, masyarakat dahulu kerap memanfaatkan Daun Sang sebagai atap rumah ataupun atap gubuk di ladang. Tidak sulit untuk pengolahannya, sederhana saja. Anda hanya perlu menjemur helai daun hingga cukup kering dan kemudian dianyam sampai tuntas hingga menjadi atap. Cara yang dipilih masyarakat setempat ini cukup efektif sebab atap dari bahan Daun Sang tahan selama bertahun-tahun.
Saat Anda menemukan Daun Sang, cobalah perhatikan sekitar. Pastilah Anda akan melihat pohon yang rindang tumbuh berdekatan dengan daun ini. Tahu kenapa? Sebab Daun Sang tidak tahan panas. Ini menyebabkan Daun Sang hanya akan tumbuh di tempat yang terlindungi dari sinar matahari. Biasanya, tanaman ini tumbuh di bawah pohon rindang agar dapat melindunginya dari teriknya sinar matahari. Pola tumbuhnya pun berkelompok atau dalam rumpun yang cukup ramai.
Sayangnya, Daun Sang masuk dalam daftar tanaman yang hampir punah saat ini. Pembukaan lahan, illegal lodging, dan pembakaran hutan memberikan pengaruh yang sangat buruk bagi keberlangsungan makhluk hidup di dalamnya, termasuk Daun Sang. Dengan mengupayakan pencegahan pembukaan hutan berarti mencegah punahnya jenis tumbuhan raksasa ini. Kondisi Daun Sang yang tidak tahan panas semakin memperparah perkembangbiakannya. Sebab pepohonan rindang yang berperan melindunginya dari sengatan matahari, kini sudah semakin menipis. Kalaupun masih ada, Daun Sang juga tidak memiliki habitat yang leluasa lagi. Keadaan ini tentunya berbeda dengan masa dahulu dimana hutan kita masih terjaga kerimbunannya dan bebas dari pembakaran. Oleh sebab itu, jika kini Anda telah mengetahui keberadaan Daun Sang sebagai salah satu kekayaan hayati yang dimiliki tanah air, Anda bertanggungjawab untuk menularkan pengetahuan tersebut kepada orang-orang sekitar agar anak cucu kita tidak merasa asing mendengar dan mengetahui persisnya jenis juga bentuk dari Daun “Raksasa” Sang.
(Written by Ika Wahyuni)

Gunung Sibayak, Puncak Sumatera Utara

Gunung Sibayak
Danau Toba, Pulau Samosir, dan Air Terjun Dua Warna masih belum cukup mewakili keragamanpanorama alam Sumatera Utara. Ingin merasakan wisata mendaki ketinggian gunung? Jika jawabannya Ya, maka ini adalah pilihan yang sangat sesuai bagi Anda. Terutama yang senang “bersusah-susah” untuk menikmati keagungan alam ciptaan Sang Kuasa. Gunung Sibayak, hanya dengan berjuang mendaki dari awal hingga ke puncaknya-lah Anda akan dapat menyaksikan bentangan pemandangan luar biasa dengan petualangan yang tak terlupakan. Tak jarang pula gunung ini disebut dengan “Gunung Raja”, sebab arti dari kata Sibayak itu sendiri adalah “Raja”. Menurut cerita penduduk, dahulunya tanah karo dikuasai oleh 4 Raja (Sibayak), yaitu Sibayak Lingga, Sarinembah, Suka, Barusjahe dan Kutabuluh.

Objek Wisata

Gunung Sibayak adalah kelas gunung berapi aktif yang memiliki uap panas. Selain itu, letusan yang terjadi beberapa waktu lalu cukup mengguncang bebatuan di puncak gunung. Kondisi yang cukup “tidak beraturan” pada bebatuan puncak nya ini, justru menjadi keunikan tersendiri yang menarik wisatawan yang senang menguji adrenalinnya untuk berusaha menaklukkan Gunung Sibayak hingga mencapai puncaknya. Pemandangan matahari terbit dari puncak gunung akan membuat anda terperangah. Kilau kemunculan sinar matahari akan menerpa wajah Anda memberikan suasana hangat, menggantikan hawa dingin yang semalaman menyelimuti perjalanan Anda. Ya, demi melihat sunrise memang ramai pendaki memilih mendaki di malam hari. Idealnya, Anda harus mulai melangkah dari kaki gunung pada pukul 02.00 dini hari. Tidak perlu khawatir, sebab suasana di malam hari tetap akan memukau Anda. Ditambah lagi cahaya-cahaya lampu rumah penduduk yang menerangi langit Gunung Sibayak. Sesaat membuat Anda merasa sedang berada di bulan karena kondisi pijakan selama pendakian yang penuh batuan.
Selain keindahan pemandangan puncaknya, aliran air dari sela-sela batuan gunung akan sangat menyegarkan Anda. Penduduk banyak yang memanfaatkannya sebagai sumber air minum. Air nya dingin dan sangat jernih. Inilah alasan utama sumber air pegunungan yang terus mengalir ini menjadi salah satu sumber air untuk air minum kemasan merek “AQUA”.
Terlepas dari kawasan puncak, Gunung Sibayak masih menyimpan kemegahannya. Kawasan lainnya yang sering dijadikan objek berfoto bagi para pendaki adalah kawah Gunung Sibayak. Di dalam kawah ini terletak batu cadas dengan kawah belerang seluas 40.000 meter. Kandungan solfatara membuatnya tak berhenti menyemburkan uap panas. Bagian yang landainya dapat dijadikan tempat Anda untuk beristirahat sejenak di dalam tenda. Akhir pekan atau hari libur sekolah akan sangat berpengaruh terhadap pertambahan jumlah pendaki gunung.

Lokasi

Gunung Sibayak berlokasi di dataran tinggi Karo, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Ketinggian Gunung yang kerap menjadi objek pendakian ini mencapai 2.094 meter dpl. Secara administratif, hutan alam pegunungan ini masuk dalam dalam kategori Taman Hutan Raya (Tahura) Bukit Barisan. Puncak tertinggi dari Gunung Sibayak bernama “Takal Kuda”. Ini adalah bahasa Karo yang berarti “Kepala Kuda”. Posisi koordinat puncaknya adalah berada pada 97°30’BT dan 4°15’LS.

Akses

Berangkat dari Kota Medan, Anda akan menempuh jarak sejauh 77 km dengan waktu kurang lebih 2 jam untuk sampai di Berastagi. Anda bisa memilih kendaraan roda dua atau roda empat. Setelah itu, untuk mencapai lokasi, terdapat dua pilihan rute, diantaranya perjalanan dari Berastagi atau dari Desa Semangat Gunung.
Terdapat tiga pintu masuk hutan gunung yang bisa Anda pilih untuk menuju puncak Gunung Sibayak. Menelusuri jalan setapak sepanjang hutan tropis dan hamparan tebing curam. Jalur masuk tersebut adalah melalui Desa Raja Berneh (Semangat Gunung), Jalur 54, Penatapan jagung rebus dan Jaranguda yang berjarak sekitar 500 meter dari Kota Berastagi.

Harga Tiket

Anda akan dimintai retribusi sebesar Rp 2.000,- per orang sebelum memasuki lokasi gunung. Jadi pastikan Anda telah menyiapkan uang pas untuk membayarnya.

Fasilitas dan Akomodasi

Posisi Gunung Sibayak yang terletak di Kota Berastagi, akan memudahkan Anda untuk mencicipi kuliner-kuliner khas Berastagi yang dijajakan di sepanjang jalan Kota. Anda juga tidak akan kesulitan menemukan tempat penginapan kelas melati hingga hotel berbintang. Hotel yang direkomendasikan dan dekat dengan objek wisata ini yaitu Grand Mutiara Hotel. Tetapi, di lokasi pegunungan ini, tentunya Anda hanya akan bercengkerama dengan alam asri hutan tanpa ada fasilitas modern di dalamnya.
(written by Ika Wahyuni)

Air Terjun Sipiso-piso

Air Terjun sipiso piso
Air Terjun Sipiso-piso merupakan salah satu tempat wisata di Pulau Sumatera. Berada di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang tidak begitu jauh dari pemukiman penduduk Desa Tongging. Air terjun ini berada di perbukitan dengan ketinggian sekitar 800 mdpl dan dikelilingi oleh hutan pinus. Pengelolaan wisata alam air terjun ini dipegang oleh Pemda Kabupaten Karo. Dengan memiliki ketinggian sekitar 120 meter, Air Terjun Sipiso-piso merupakan salah satu air terjun tertinggi di Indonesia. Dengan adanya air terjun ini, Kabupaten Karo menjadi salah satu tempat wisata yang paling diminati oleh para wisatawan domestik dan mancanegara.

Objek Wisata

Anda akan terkagum-kagum dengan pesona Air Terjun Sipiso-piso, ketika Anda berada di Desa Tongging, tempat di mana air terjun ini berada. Sebelum Anda melihat air terjun ini dari dekat, berkunjunglah di gardu pandang yang terletak di puncak bukit. Anda akan melihat hamparan keindahan Tanah Karo. Dari gardu pandang ini juga, Anda dapat menikmati keindahan Pulau Samosir, pulau yang berada di tengah Danau Toba.
Setelah Anda puas menikmati pemandangan nan indah dari jauh, Anda dapat melanjutkan perjalanan menelusuri punggungan bukit untuk bercengkerama dengan keindahan Air Terjun Sipiso-piso. Namun, Anda tidak perlu khawatir dalam menelusuri punggungan bukit tersebut, karena sudah disediakan jalur yang berupa anak tangga dan memang disediakan untuk para wisatawan. Perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam untuk mencapai dasar air terjun ini. Dalam perjalanan tersebut, jangan lupa untuk mengabadikan momen indah ini dengan berfoto-foto dengan latar belakang Danau Toba.
Sesampainya di dasar air terjun, arahkan pandangan Anda ke bukit-bukit yang ada di sekeliling air terjun. Dengan perpaduan hijaunya pepohonan pinus yang rimbun dan suara gemuruh air terjun, membuat suasana hati dan pikiran Anda terasa damai dan tenteram. Jangan lupa untuk membawa bekal makanan untuk dinikmati bersama keluarga Anda setelah lelah bermain air di Air Terjun Sipiso-piso.

Lokasi

Air Terjun Sipiso-piso berada di Desa Tongging, Kec. Merek, Kab. Karo, Sumatra Utara. Kecamatan Merek terletak kurang lebih 24 km dari Kota Kabanjahe.

Akses

Jika Anda menggunakan transportasi umum dari Medan, Sumatera Utara. Anda dapat menggunakan bus dengan jurusan Kota Kabanjahe dengan waktu kurang lebih 2 jam. Kemudian, setelah sampai di Kabanjahe, perjalanan dilanjutkan dengan bus menuju Danau Toba. Perjalanan memakan waktu sekitar 30 menit dengan jarak tempuh sekitar 24 Km.

Fasilitas dan Akomodasi

Beberapa fasilitas di Air Terjun Sipiso-piso cukup memadai, seperti tersedianya lahan parkir dan warung makan. Untuk penginapan Anda bisa menemukannya di Desa Tongging dan Desa Kabanjahe. Untuk membeli oleh-oleh bagi kerabat atau teman, Anda bisa membelinya di toko souvenir yang ada di tempat wisata ini. Jika Anda masih punya banyak waktu, Anda dapat menyempatkan berkunjung ke Air Terjun Dua Warna yang berada tidak jauh dari Air Terjun Sipiso-piso.

Beo Nias, Burung Endemik Sumatera Utara

Beo Nias
Pulau Sumatera memiliki flora fauna yang sangat khas, salah satunya yaitu burung Beo Nias. Dari segala jenis burung, Burung Beo merupakan salah satu yang paling unik. Bagaimana tidak? Spesies ini mampu berbicara dengan cara mengulang perkataan manusia yang didengarnya. Di Indonesia sendiri, salah satu provinsi yang dianugerahi kekayaan endemik Beo adalah Pulau Nias, Provinsi Sumatera Utara. Pulau Nias sangat beruntung karena memiliki salah satu jenis burung pintar ini. Bahkan, Beo dari Nias ini tidak hanya mampu menirukan ucapan Anda, melainkan juga suara – suara lain yang didengarnya. Karena kecemerlangannya, burung ini menjadi identitas Sumatera Utara. Maka dari itu tidak heran jika burung Beo Nias termasuk jenis Beo paling dicari di Indonesia.
Beo Nias ini dilindungi oleh negara berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 421/Kpts/Um/8/1970. Ia mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan jenis burung beo lainnya. Bagi orang awam yang tidak mengerti tentang burung beo, mungkin melihat burung Beo Nias ini tidak ada bedanya dengan burung beo lainnya, namun bagi Anda penggemar mereka tentu akan mudah membedakannya karena tubuh burung Beo Nias terlihat lebih besar dan lebih gagah.
Beberapa ciri dari burung Beo Nias yaitu pada bagian kepala memiliki bulu yang pendek. Di sepanjang cuping telinga menyatu di belakang kepala yang berbentuk gelambir (seperti jengger ayam) yang ada di telinga dan berwarna kuning mencolok.
Di bagian sisi kepala dari burung Beo Nias terdapat juga sepasang pial yang berwarna kuning. Iris matanya berwarna coklat gelap. Paruhnya besar serta runcing dan memiliki warna kuning oranye. Pada bagian tubuhnya, tertutup bulu yang berwarna hitam pekat, namun di ujung sayap bulunya berwarna putih. Pada bagian kedua kakinya berwarna kuning dan memiliki jari kaki yang berjumlah empat. Tiga jari menghadap ke depan dan jari lainnya menghadap ke belakang.
Burung Beo Nias memiliki nama latin Gracula religiosa robusta atau Gracula robusta, hidup secara berkelompok atau berpasangan ini hanya bisa ditemui di Pulau Nias dan sekitarnya, seperti Pulau Babi, Pulau Simo, Pulau Tuangku dan Pulau Bangkaru. Biasanya burung Beo Nias membuat sarang mereka di batang pohon tinggi yang berdiri tegak dengan melubanginya. Bersama kelompoknya, Burung Beo Nias ini sangat suka tinggal di alam terbuka.
Makanan yang sangat disukai oleh jenis Beo Nias ini adalah berupa buah-buahan, biji-bijian, dan juga serangga. Dalam berkembangbiak ia memiliki musim bertelur, yaitu antara bulan Desember hingga bulan Mei. Biasanya pohon-pohon yang sudah lapuk atau batang pohon tinggi yang masih berdiri tegak, menjadi tempat yang nyaman dipilih oleh para betina yang hendak bertelur ini. Biasanya betina burung beo yang mulai punah populasinya akan menelurkan 2 hingga 3 butir telur, dan mereka akan mengerami telur yang biasanya berwarna biru muda dengan bercak coklat dan ungu muda dengan ukuran telur yang rata-rata 26-37 mm ini selama kurang lebih tiga minggu lamanya.
Namun sayang karena keunikannya, burung Beo Nias yang cantik ini terancam populasinya di dunia. Banyaknya pemburu yang menginginkan burung ini berdampak pada berkurangnya jumlah dari burung yang didaftar sebagai Least Concern dalam IUCN Redlist dan CITES Apendiks II ini.

Tari Tor Tor Seni Budaya Sumatera Utara

Tari Tor tor Batak
Ketika kita dengar kata “Tor Tor Batak” maka kita akan membayangkan sekelompok orang (Batak Toba) yang menari (manortor) diiringi seperangkat alat musik tradisional (gondang sabangunan), dengan gerakan tari yang riang gembira, melenggak-lenggok yang monoton, yang diadakan pada sebuah pesta suka maupun duka di wilayah Tapanuli. Tari Tor Tor ini juga sangat terkenal sampai ke penjuru dunia, ini terbukti dari banyaknya turis manca negara maupun lokal yang ingin belajar tarian ini, hal ini dikarenakan masyarakat Batak yang pergi merantau pun dengan bangga selalu menampilkan Tari Tor Tor Sumatera Utara ini dalam acara perhelatannya.
Tari Tor Tor merupakan salah satu jenis tari yang berasal dari suku Batak di Pulau Sumatera. Sejak sekitar abad ke-13, Tari Tor Tor sudah menjadi budaya suku Batak. Perkiraan tersebut dikemukakan oleh mantan anggota anjungan Sumatera Utara 1973-2010 dan pakar Tari Tor Tor. Dulunya, tradisi Tor Tor hanya ada dalam kehidupan masyarakat suku Batak yang berada di kawasan Samosir, kawasan Toba dan sebagian kawasan Humbang. Namun, setelah masukknya Kristen di kawasan Silindung, budaya ini dikenal dengan budaya menyanyi dan tarian modern. Di kawasan Pahae dikenal dengan tarian gembira dan lagu berpantun yang disebut tumba atau juga biasa disebut Pahae do mula ni tumba.
Sebelumnya, tarian ini biasa digunakan pada upacara ritual yang dilakukan oleh beberapa patung yang terbuat dari batu yang sudah dimasuki roh, kemudian patung batu tersebut akan “menari”.
Jenis Tari Tor Tor:
  • Tor Tor Pangurason yaitu tari pembersihan yang dilaksanakan pada acara pesta besar. Namun sebelum pesta besar tersebut dilaksanakan, lokasi yang akan digunakan untuk acara pesta besar wajib dibersihkan dengan media jeruk purut. Ini diperuntukkan, pada saat pesta besar berlangsung tidak ada musibah yang terjadi.
  • Tor Tor Sipitu Cawan atau disebut juga Tari Tujuh Cawan. Tor Tor ini dilaksanakan pada acara pengangkatan raja. Tor Tor Sipitu Cawan menceritakan 7 putri yang berasal dari khayangan yang turun ke bumi dan mandi di Gunung Pusuk Buhit dan pada saat itu juga Pisau Tujuh Sarung (Piso Sipitu Sasarung) datang.
  • Tor Tor Tunggal Panaluan yang merupakan suatu budaya ritual. Kemudian ada Tor Tor Tunggal Panaluan yang dilaksanakan pada saat upacara ritual apabila suatu desa sedang dilanda musibah. Untuk Tor Tor ini, penari dilakukan oleh para dukun untuk mendapatkan petunjuk dalam mengatasi musibah tersebut.
Sekarang ini Tari Tor Tor menjadi sebuah seni budaya bukan lagi menjadi tarian yang lekat hubungannya dengan dunia roh. Karena seiring berkembangnya zaman, Tor Tor merupakan perangkat budaya dalam setiap kehidupan adat suku Batak.
Dalam hal tata busana tari Tor Tor sangatlah sederhana. Seseorang yang ingin menari Tor Tor dalam sebuah pesta yang diikuti, cukup dengan memakai ulos yang merupakan tenunan khas Batak. Ulos yang digunakan ada dua macam, ulos untuk ikat kepala dan ulos untuk selendang. Namun motif ulos yang akan digunakan harus sesuai dengan pesta yang diikuti.
Selain sederhana dalam hal busana, Tor Tor juga sederhana dalam hal gerakan. Gerakan tangan dan kaki yang cukup terbatas merupakan salah satu ciri tarian Tor Tor Sumatera Utara. Hentakan kaki dari penari bergerak mengikuti iringan magondangi. Magondangi sendiri terdiri dari berbagai alat musik tradisional yaitu gondang, tagading, suling, terompet batak, ogung (doal, panggora, oloan), sarune, odap gordang dan hesek. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa gerak Tor Tor Batak berbeda dalam setiap jenis musik yang diperdengarkan dan berbeda pula gerak Tor Tor laki-laki dan gerak Tor Tor perempuan. Menurut para pemerhati Tor Tor, bahwa Tor Tor yang dilakonkan juga dibedakan antara Tor Tor Raja dengan Tor Tor Natorop. Sementara perangkat lain dalam acara tortor Batak biasanya harus ada orang yang menjadi pemimpin kelompok Tor Tor dan pengatur acara/juru bicara (paminta gondang), untuk yang terakhir ini sangat dibutuhkan kemampuan untuk memahami urutan gondang dan jalinan kata-kata serta umpasa dalam meminta gondang.
Bagaimanapun juga, Tor Tor Batak adalah identitas seni budaya masyarakat Batak yang harus dilestarikan dan tidak lenyap oleh perkembangan zaman dan peradaban manusia. Tari Tor Tor Batak mengandung nilai-nilai etika, moral dan budi pekerti yang perlu ditanamkan kepada generasi muda. Dan ini merupakan tugas kita bersama sebagai warga negara Indonesia agar tidak ada lagi seni budaya asli peninggalan nenek moyang bangsa kita yang diklaim oleh negara lain.

Eksotisme Kawah Putih Tinggi Raja Sumatera Utara

Kawah Putih, Tinggi Raja
Sumatera Utara sebuah propinsi yang mempunyai keindahan obyek wisata Danau Tobanya yang sangat terkenal di Indonesia maupun dunia. Tetapi di Propinsi Sumatera Utara terdapat obyek wisata eksotis yang masyarakat indonesia tidak begitu mengetahuinya. Namanya Kawah Putih Tinggi Raja, yang kalau di Jawa Barat mempunyai Kawah Putih Ciwidey. Namun keindahan Kawah Putih Tinggi Raja tak kalah denganKawah Putih Ciwidey Jawa Barat dan Danau Toba.
Obyek Wisata
Obyek wisata ini belum terekplorasi dengan baik, berada di tengah-tengah kawasan hutan pohon yang tinggi-tinggi membuat obyek wisata ini belum sangat dikenal. Kawah Putih Tinggi Raja yang terdapat di cagar alam seluas 176 hektare dan memliki lahan kawah seluas 4 hektare ini bagai mutiara di dalam lumpur. Tidak dapat dipercaya di tengah-tengah lebatnya hutan dan jalan untuk menuju kawah yang tidak begitu mulus terdapat keindahan yang mengagumkan, pengunjung pun akan dibuat terpesona dengan keindahan bukit putih kapur dan aliran air panas yang keindahanya menyerupai putih salju.
Sumber air panas yang mencapai suhu sekitar 90 derajat celcius Kawah Putih Tinggi Raja ini berasal dari bukit-bukit kecil yang ada di daerah tersebut, sehingga air panas itu bisa untuk merebus telur hingga matang. Aliran air panas mengalir diantara bebatuan kapur yang berundak-undak, peristiwa ini menjadikan batuan tersebut menjadi putih bersih seperti salju. Sebagian orang menyebutnya dengan Salju Panas.
Ada dua tempat yang bisa di kunjungi di area obyek wisata ini. Yang pertama adalah bukit kapur yang dilalui oleh aliran air panas yang membuat bebatuan ini menjadi indah dipandang mata, ada juga keindahan karpet alam yang terbentuk dari aliran sungai yang berlumut yang dilewati air panas menjadikan bebatuan tersebut seperti sebuah karpet yang berwarna hijau keputihan. Diatas juga terdapat sebuah kolam alam yang berluas tidak cukup besar yang mengeluarkan sumber air panas yang nampak bergelembung dari dasar kolam, yang tentunya pengunjung dilarang mandi di area itu. Aliran air panas yang melalui semak-semak pepohonan yang mengering dan berkumpul menjadi satu membentuk sebuah danau yang berwarna biru kehijauan yang amat cantik.
Tempat kedua berada di bawah tebing. Disini pengunjung bisa menikmati atau bermandi air. Terdapat sebuah aliran sungai yang sejuk dan air terjun yang mengalir dari bukit di atas menjadikan tempat ini tujuan berendam setelah pengunjung menikmati keindahan air panas diatas. Sumber air panas ini dipercaya mengandung belerang yang baik bagi kesehatan kulit bila dipakai untuk mandi atau sekedar untuk membasuh anggota badan.

Lokasi
Kawah Putih Raja Tinggi terletak di Desa Dolok Tinggi Raja, Kecamatan Silau Kahean, yang berada di ujung pelosok Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
Akses
Ada tiga rute yang bisa dilaui untuk samapi ke kawasan Kawah Putih Tinggi Raja
  1.  Medan-Lubuk Pakam-Galang-Dolok Raja Tinggi
  2. Masihul-Nagori Dolok-Dolok Tinggi Raja
  3. Medan-Lubuk Pakam-Galang-Bangun Purba-Dolok Tinggi Raja
Semua mempunyai jarak tempuh yang sama yaitu 80 – 90 km denga waktu 3-4 jam dari Kota Medan.
Akomodasi
Karena tempatnya yang terpencil dan jauh dari kota, tidak terdapat penginapan atau hotel di area tersebut.Dan alangkah baiknya bila membawa bekal makan sendiri, karen jarang ditemui warung makan di obyek wisata ini.